Ahmad Dahlan dan Pemberdayaan Kaum Dhuafa

Pengantar

Membicarakan Muhammadiyah maka akan menyangkut banyak aspek, mengingat Muhammadiyah sudah berkembang sedemikian rupa dan berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itulah dalam perkuliahan ini kita tidak akan membicarakan semua aspek, tapi akan fokus pada pada ciri dan misi utama organisasi ini didirikan.

Selanjutnya untuk mengetahui spirit dan identitas utama organisasi ini tentunya juga tak lepas dari pembicaraan tentang Kiai Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Islam terbesar dan terkuat di dunia ini. Spirit, misi besar apakah yang membuat Kiai Ahmad Dahlan kemudian tergerak untuk mendirikan Muhammadiyah. Inilah spirit dan identitas utama organisasi ini yang akan kita pahami dan coba praktikkan melalui pekuliahan mata kuliah Kemuhammadiyahan ini.  

Ahmad Dahlan dan Pemberdayaan Kaum Dhuafa

Ketimpangan sosial, keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan. Itulah situasi yang dialami oleh mayoritas penduduk Indonesia yang secara mayoritas beragama Islam. Situasi ini dapat disaksikan oleh siapa pun di mana pun di sleuruh penjuru negeri. Tapi tidak banyak yang hatinya resah dan tergerak untuk menjadi solusi, mencari jalan keluar bagi persoalan ini. Diantara sedikit orang itu adalah Muhammad Darwis atau yang di kemudian hari lebih dikenal dengan Ahmad Dahlan.

Pada masa-masa awal perjuangan dakwah Kiai Ahmad Dahlan, sebelum ia mendirikan Muhammadiyah, ia aktif berdakwah, mengajar di berbagai tempat. Salah satunya di Yogyarakta ia mengadakan pengajian rutin habis subuh.

Salah satu materi yang diajarkan pada pengajian itu adalah pembahasan surat al-Maun. Tersebutlah dalam suatu kisah yang sangat terkenal bahwa beliau mengajarkan surat al-Maun secara berulang-ulang. Setiap pagi yang diajarkan itu terus, dibaca, dihafal dan diulas terus-menerus hingga para santrinya bosan.

“Kiai, mohon maaf mengapa materi pengajian tidak ditambah-tambah, hanya mengulang-ulang surat Al-Ma’un saja?” Tanya salah seorang santrinya yang bernama Sudjak. Kiai Dahlan kemudian balik bertanya:

”Apakah kalian sudah mampu membaca dengan baik surat ini?”

“Sudah, Kiai.”

“Sudah hafal?”

“Sudah hafal juga, Kiai.”

“Sudah faham arti dan kandungannya?”

“Sudah, Kiai. Sudah hafal dan faham semua arti dan kandungannya.”

“Apakah kalian sudah mengamalkannya?”

“Sudah juga, Kiai. Kami senantiasa mengamalkan ayat ini dengan membaca berulang-ulang dalam shalat kami.”

Mendengar jawab itu, lalu Kiai Dahlan menimpali:

“Bukan itu maksud dari mengamalkan surat al-Ma’un. Maksudnya adalah mengamalkan isi kandungannya dalam praktik. Kalau di situ ada larangan, maka jauhilah apa yang dilarang. Kalau di situ ada perintah, maka lakukanlah apa yang diperintahkan.” (www.suaramuhammadiyah.id)

Kemudian Kiai Dahlan menyuruh para santrinya untuk menemui kaum miskin di sekitar kauman tempat mereka mengaji dan disuruh untuk menyantuni mereka semampunya.

Inilah cara mengajar Kiai Dahlan. Beliau tidak hanya menyampaikan teori-teori, tapi mengarahkan para muridnya hingga praktik. Membimbing muridnya hingga mengamalkan apa yang dilarang dan diperintahkan al-Quran.

Melalui cara ini, Kiai Dahlan hendak menghadirkan ajaran Islam sebagai penggerak perubahan sosial. Sebuah ajaran yang dapat mentransformasikan kehidupan ke arah yang lebih baik. Inilah spirit perjuangan dakwah Kiai Dahlan yang di kemudian hari dituangkan ke dalam misi besar persyarikatan Muhammadiyah.

Pesan Moral Surah Al Ma’un

Surah Al-Ma’un (bahasa Arab :الْمَاعُونَ, “Hal-Hal Berguna”) adalah surah ke-107 dalam al-Quran. Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri atas 7 ayat. Kata Al Maa’uun sendiri berarti bantuan penting atau hal-hal berguna, diambil dari ayat terakhir dari surah ini. Pokok isi surah menjelaskan ancaman terhadap mereka yang tergolong menodai agama, yakni mereka yang menindas anak yatim, tidak menolong orang yang meminta-meminta, riya’ (ingin dipuji sesama manusia) dalam salatnya, serta enggan menolong dengan barang-barang yang berguna.

Surat inilah yang menjadi inspirasi Kiai Dahlan untuk melakukan pemberdayaan sosial, menyapa dan peduli kepada fakir miskin. Berikut teks lengkap surat al-Maun beserta terjemahannya:

1. اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ

araaitalladzii yukadzdzibu biddiin

Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

2. فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ

fadzaalikalladzii yadu”ul yatiim

Artinya: maka itulah orang yang menghardik anak yatim

3. وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ

wa laa yaḥuḍḍu ‘alaa ṭa’aamil-miskiin

Artinya: dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

4. فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ

fa wailul lil muṣalliin

Artinya: Maka celakalah orang yang salat,

5. الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

alladziina hum ‘an ṣalaatihim saahụn

Artinya: (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,

6. الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ

alladziina hum yuraaụn

Artinya: yang berbuat riya

7. وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

wa yamna’uụnal-maa’ụn

Artinya: dan enggan (memberikan) bantuan.

Baiklah, mari kita bayangkan bahwa saat ini kita sedang mengikuti pengajian Kiai Ahmad Dahlan. Kita adalah murid-murid Kiai Dahlan yang sedang mengikuti pengajian surat al-Maun.

Lalu bagaimana cara beliau mengajarkan surat ini? Berikut langkah-langkah yang harus kita ikuti:

  1. Mampu membacanya dengan baik dan benar.

Bagaimana? Apakah teman-teman sudah mampu membaca surat al-Maun dalam dengan teks Arab, teks asli saat diturunkan secara benar? Jika belum maka pelajari dulu hingga mampu membacanya dengan benar.

  1. Memahami artinya.

Bagaian ini tidak terlalu sulit. Kita tinggal membaca artinya. Kecuali untuk mendalaminya lebih jauh nanti kita akan kupas pada bagian selanjutnya mengenai tafsirnya. Tapi untuk sekedar faham secara umum dengan membaca terjemahannya saya kira sudah dapat mengetahui apa isi kandungannya. Silahkan baca artinya, renungkan dan tuliskan poin-poin penting dari surat al-Maun ini, apa yang dilarang oleh Allah dalam surat ini dan apa yang diperintahkan?

  1. Mengamalkan.

Lalu bertanyalah pada diri kita, apakah kita sudah mengamalkannya? Jangan beralih ke surat lain sebelum kita mengamalkan apa yang dilarang/diperintahkan Allah alam surat ini. Sehubungan dengan perkuliahan ini, nantinya akan ada tugas untuk melakukan dakwah lapangan yaitu melakukan pemberdayaan/membantu kaum dhu’afa. Jadi perkuliahan ini mengikuti metode pengajaran Kiai Ahmad Dahlan. Belajar teori lalu mengamalkan.

Untuk memperluas pemahaman kita terhadap surat al-Maun ini, selanjutnya kita akan bahas berbagai tafsir mengenai surat ini.

Menurut Ibnu Munzir sebab turun ayat ini adalah berkenaan dengan orang-orang munafik yang pura-pura melakukan shalat. Mereka shalat hanya untuk adaptasi dan pamer semata. Padahal mereka tidak beriman. Ketika tidak ada orang mereka tidak melakukan shalat. (Tim Penulis Dosen AIK, 2018: 25-26).

Pesan yang terkandung dalam ayat ini dapat kita kelompokkan ke dalam 3 (tiga) seruan/perintah penting, yaitu:

  1. Seruan agar peduli terhadap anak yatim dan kaum miskin

Allah menegaskan bahwa mereka yang tidak peduli terhadap anak yatim, menterlantarkan anak yatim dan tidak peduli terhadap kaum miskin adalah para pendusta agama. Di sini jelas terlihat keharusan adanya keterpaduan antara ritual ibadah dengan kepedulian sosial. Antara menjaga hubungan baik dengan Allah (hablun minallah) dan menjaga hubungan baik dengan sesama (hablun minannas).

  1. Seruan agar tidak melalaikan shalat.

Menurut para ulama yang diamksud melalaikan shalat mencakup beberapa hal: mereka yang shalat meninggalkan shalat, yang shalat tapi hanya untuk pamer dan adaptasi semata, yang suka melalaikan waktu shalat yakni sudah masuk waktu shalat tapi dengan santainya di menunda melaksanakannya hingga di ujung waktu. (Tim Penulis Dosen AIK, 2018: 27).

  1. Seruan untuk membantu sesama (tolong menolong antar sesama).

Termasuk orang yang celaka adalah mereka yang tidak mau memberikan “al-Ma’un”. Para ulama berbeda pendapat mengenai arti kata al-Ma’un. Ada yang memberi makna pinjaman barang-barang sederhana yang umum untuk dipinjamkan, ada yang memberi makna sesuatu yang masih ada nilai guna dan manfaatnya (barang pantas pakai), ada juga yang memaknai zakat. Ikrimah menyimpulkan bahwa al-Ma’un adalah pemberian kepada orang lain mulai dari yang sederhana hingga puncaknya adalah zakat. Dapat disimpulkan bahwa makna al-Ma’un adalah bantuan atau pertolongan kepada orang yang membutuhkan. (Tim Penulis Dosen AIKA, 2018: 35)

Secara praksis, dalam konteks Muhammadiyah, surat al-Maun ini diwujudkan dalam bentuk tiga aksi pokok yaitu: healing (pelayanan kesehatan), schooling (pelayanan pendidikan), dan feeding (pelayanan sosial). (Tim Penulis Dosen AIKA, 2018: 18)

Surat al-Maun inilah kemudian yang menjadi inspirasi model keberagamaan Muhammadiyah dimana ajaran Islam diamalkan dalam praksis kehidupan, sebagai alat untuk mentransformasikan kehidupan.

Mengamalkan Islam bukanlah sekedar shalat dan melakukan hal-hal normatif dengan harapan fahala di alam akhirat. Tapi harus berperan nyata dan menghadirkan solusi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan model seperti ini Muhammadiyah tampil sebagai gerakan Islam yang mengedepankan amal sosial, gerakan sosial keagamaan yang sesungguhnya.[]

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penulis Dosen AIKA, Kemuhammadiyahan, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018),

Tim Penulis Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah, Al Islam dan Kemuhammadiyahan untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah, (Yogyakarta: Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah, Al Islam dan Kemuhammadiyahan untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah, 2016).

Haedar Nashir, Kuliah Kemuhammadiyahan 2, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018).

About Mr Tohirin

Avatar

Check Also

Mengenal Muhammadiyah

Saya adalah orang yang awalnya tidak punya latar belakang Muhammadiyah. Dulu, sebelum saya masuk Muhammadiyah, …

Leave a Reply